Kisah Para Nabi
Sulaiman & Ratu Saba'
Q.S. An-Naml 15–44
Kisah Nabi Sulaiman yang dianugerahi kerajaan agung, bala tentara dari jin, manusia, dan burung, serta kemampuan memahami bahasa hewan. Melalui kabar dari burung Hud-hud tentang kerajaan Saba' yang menyembah matahari, Sulaiman mengirimkan surat dakwah tauhid yang bijaksana hingga membawa sang Ratu beserta rakyatnya berserah diri kepada Allah Tuhan semesta alam. Kisah ini menggambarkan keagungan kepemimpinan yang bersyukur dan ketundukan kepada kebenaran hakiki.
Anugerah Kerajaan dan Lembah Semut
Allah menganugerahkan ilmu yang luas kepada Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman hingga keduanya senantiasa memuji Allah atas keutamaan yang dilimpahkan kepada mereka. Sulaiman yang mewarisi kenabian dan kerajaan Dawud mengabarkan karunia Allah berupa kemampuan memahami bahasa burung serta kelimpahan segala kebaikan.
Bala tentara Sulaiman yang terdiri atas bangsa jin, manusia, dan kawanan burung dihimpun dan berbaris dengan sangat teratur dalam perjalanannya.
Ketika rombongan tiba di sebuah lembah semut, seekor semut memperingatkan kawanannya agar segera masuk ke sarang agar tidak terinjak tanpa sengaja oleh pasukan Sulaiman. Mendengar ucapan semut tersebut, Sulaiman tersenyum dan memanjatkan doa memohon agar selalu diberi ilham untuk mensyukuri nikmat Allah serta dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang saleh.
Kekuasaan dan kenikmatan yang melimpah hendaknya melahirkan kerendahan hati dan rasa syukur yang mendalam kepada Allah (27:19).
Catatan istilah
- Manṭiqat-ṭayr
- Disebut dalam 27:16; bermakna bahasa atau percakapan burung yang dipahami oleh Nabi Sulaiman atas izin Allah.
- Wādun-naml
- Disebut dalam 27:18; lembah yang dihuni oleh koloni semut.
Berita dari Hud-hud tentang Negeri Saba'
Saat memeriksa barisan burung, Sulaiman menyadari ketidakhadiran burung Hud-hud dan menegaskan akan menghukumnya kecuali jika ia datang membawa alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak lama kemudian Hud-hud tiba dan melaporkan bahwa ia baru saja menyaksikan sebuah kerajaan makmur di negeri Saba' yang dipimpin oleh seorang penguasa perempuan dengan singgasana yang sangat megah. Namun penguasa dan rakyatnya menyembah matahari alih-alih menyembah Allah Yang Maha Mengeluarkan hal gaib di langit dan bumi serta Pemilik Arasy yang agung.
Sulaiman memutuskan untuk menguji kebenaran laporan tersebut. Ia memberikan selembar surat dan memerintahkan Hud-hud menjatuhkannya kepada para penguasa Saba' serta mengamati bagaimana mereka menanggapinya.
Penyelidikan dan kehati-hatian dalam memverifikasi suatu berita adalah akhlak penting sebelum mengambil keputusan (27:27).
Catatan istilah
- Saba'
- Disebut dalam 27:22; nama negeri atau kaum di wilayah selatan Jazirah Arab (Yaman).
- Nama Ratu Saba'
- Nama penguasa perempuan negeri Saba' tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.
Surat Ajakan Tauhid dan Musyawarah Saba'
Ratu Saba' mengumpulkan para pembesarnya setelah menerima surat berharga dari Sulaiman yang diawali dengan bismillahirrahmanirrahim. Surat tersebut berisi seruan tegas agar mereka tidak berlaku sombong dan segera datang menghadap dalam keadaan berserah diri kepada Allah.
Sang Ratu meminta pertimbangan dari para pembesar kerajaannya. Para pembesar menyatakan kesiapan tempur dengan kekuatan militer yang besar, namun menyerahkan keputusan akhir kepadanya. Ratu yang bijak memilih menghindari kehancuran perang dengan mengirimkan utusan pembawa hadiah guna menguji maksud Sulaiman.
Ketika utusan pembawa hadiah tiba, Sulaiman menolak pemberian harta tersebut dan menegaskan bahwa karunia yang Allah berikan kepadanya jauh lebih baik dari segala perbendaharaan dunia. Sulaiman memerintahkan hadiah itu dibawa kembali dan mengancam akan mengerahkan bala tentara yang tidak akan sanggup mereka hadapi apabila mereka tidak tunduk pada seruan kebenaran.
Kebenaran dakwah tidak dapat ditukar atau disuap dengan kemilau harta benda duniawi (27:36).
Catatan istilah
- Muslimīn
- Disebut dalam 27:31; dalam konteks seruan Nabi Sulaiman bermakna orang-orang yang berserah diri dan tunduk patuh kepada tauhid.
Pemindahan Singgasana dan Berserah Diri kepada Allah
Menjelang kedatangan rombongan Saba', Sulaiman menanyakan siapa di antara pengikutnya yang sanggup menghadirkan singgasana sang Ratu. Setelah tawaran dari jin Ifrit, seorang yang dianugerahi ilmu dari Kitab menyatakan kesanggupannya mendatangkan singgasana itu dalam sekejap mata. Ketika melihat singgasana tersebut telah berada di hadapannya, Sulaiman segera memuji Allah dan menyadari bahwa nikmat itu adalah ujian atas rasa syukurnya.
Sulaiman memerintahkan agar bentuk singgasana itu disamarkan untuk menguji kejelian sang Ratu. Ketika tiba dan ditanya mengenai singgasana tersebut, sang Ratu dengan cerdas menjawab bahwa singgasana itu tampak serupa dengan miliknya, seraya menyatakan bahwa mereka telah mengetahui tanda-tanda kebesaran kenabian Sulaiman dan bersiap untuk berserah diri.
Ketika dipersilakan memasuki istana, sang Ratu mengira lantainya adalah kolam air yang dalam sehingga ia menyingkap pakaiannya. Sulaiman segera menjelaskan bahwa lantai tersebut terbuat dari kaca yang sangat bening dan licin. Menyaksikan hikmah dan bukti kekuasaan tersebut, sang Ratu mengakui kekhilafannya di masa lalu dan menyatakan keislamannya dengan berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.
Kecerdasan dan keterbukaan hati dalam mengenali bukti kebenaran akan menuntun jiwa untuk berserah diri kepada Allah (27:44).
Catatan istilah
- ‘Ifrīt
- Disebut dalam 27:39; golongan jin yang memiliki kekuatan besar dan kecekatan.
- Sosok pemilik ilmu dari Kitab
- Disebut dalam 27:40; identitas dan nama sosok berilmu yang memindahkan singgasana dalam sekejap mata tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.
- Ṣarḥ
- Disebut dalam 27:44; bermakna istana atau lantai megah yang dibuat berlapis kaca licin di atas air.
Akhir kisah
Sulaiman & Ratu Saba'
Kisah ini terdiri dari 4 episode, bersumber dari Q.S. An-Naml 15–44. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.