Nuh & Perahu Besar
Episode 1 dari 5

Kisah Para Nabi

نُوحٌ وَالسَّفِينَة

Nuh & Perahu Besar

Q.S. Hud 25–49 · Nuh 1–28

Kisah perjuangan dakwah Nabi Nuh yang menyeru kaumnya kepada tauhid selama berabad-abad di tengah penentangan para pemuka kaum. Atas perintah dan pengawasan Allah, Nuh membuat bahtera besar untuk menyelamatkan orang-orang beriman dan pasangan hewan dari azab banjir besar yang menenggelamkan kaum kafir, termasuk putranya sendiri. Kisah ini menegaskan bahwa keselamatan dan ikatan sejati hanya berpijak pada keimanan kepada Allah.

  • 5 episode
  • 53 ayat
  • ~7 menit baca
Tokoh
Nabi NuhPara Pemuka Kaum yang KafirOrang-orang BerimanPutra Nuh
01Episode 1 dari 5

Dakwah Panjang Mengajak kepada Tauhid

Allah mengutus Nuh kepada kaumnya sebagai pemberi peringatan yang nyata untuk menegaskan agar mereka tidak menyembah selain Allah dan memperingatkan datangnya siksa yang amat pedih bagi mereka yang ingkar.

Nuh berdakwah siang dan malam tanpa kenal lelah, baik secara terang-terangan maupun secara rahasia. Ia mengingatkan kaumnya untuk memohon ampunan kepada Allah yang Maha Pengampun, yang akan melimpahkan hujan berkah, memperbanyak harta dan keturunan, serta menyediakan kebun-kebun dan sungai-sungai bagi mereka.

Nuh juga mengajak mereka merenungi tanda-tanda kebesaran Allah pada penciptaan tujuh lapis langit, bulan sebagai penerang, matahari sebagai pelita, serta penciptaan manusia dan bumi yang dihamparkan sebagai tempat beraktivitas.

Namun kaumnya justru membangkang, merancang tipu daya yang besar, dan saling berpesan agar tidak meninggalkan sesembahan berhala mereka (Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, dan Nasr). Menyaksikan kedurhakaan yang berlarut-larut tersebut, Nuh berdoa memohon keselamatan bagi orang-orang yang beriman serta pembersihan bumi dari orang-orang zalim.

Hikmah
Keteguhan menyampaikan kebenaran menuntut kesabaran panjang tanpa putus asa sekalipun menghadapi penolakan kaum (71:5).

Catatan istilah

Wadd, Suwā‘, Yagūṡ, Ya‘ūq, Nasr
Disebut dalam 71:23; nama-nama berhala yang disembah oleh kaum Nabi Nuh.
02Episode 2 dari 5

Penentangan dan Tantangan dari Para Pemuka

Para pemuka kafir menolak dakwah Nuh dengan alasan bahwa Nuh hanyalah manusia biasa seperti mereka, dan orang-orang yang mengikutinya hanyalah kelompok yang mereka pandang hina dan lekas percaya tanpa berpikir panjang, bahkan menuduh Nuh dan pengikutnya sebagai pembohong.

Nuh menegaskan bahwa ia membawa bukti nyata dari Tuhannya dan tidak meminta imbalan harta sedikit pun atas seruan dakwahnya karena imbalannya hanya dari Allah. Nuh juga menolak keras tuntutan mereka untuk mengusir orang-orang beriman, serta menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki perbendaharaan gaib maupun mengaku sebagai malaikat.

Karena kehabisan dalih, para pemuka menantang Nuh untuk segera mendatangkan azab yang diancamkan kepadanya. Nuh menjawab bahwa urusan azab sepenuhnya berada di tangan Allah yang tidak dapat mereka hindari, dan nasihatnya tidak akan memberi manfaat apabila ketetapan Allah atas keingkaran mereka telah berlaku.

Hikmah
Kemuliaan manusia di sisi Allah diukur dari keimanan dan ketakwaannya, bukan kekayaan atau status sosial duniawi (11:29-31).

Catatan istilah

Arāżilunā
Disebut dalam 11:27; sebutan merendahkan dari para pemuka kafir kepada pengikut Nabi Nuh yang dianggap berkedudukan rendah.
03Episode 3 dari 5

Perintah dan Pembuatan Bahtera

Allah mewahyukan kepada Nuh bahwa tidak ada lagi dari kaumnya yang akan beriman selain mereka yang telah beriman sebelumnya. Nuh diperintahkan untuk tidak bersedih dan segera membuat bahtera besar di bawah pengawasan serta petunjuk wahyu Allah, seraya ditegaskan bahwa kaum yang zalim itu pasti akan ditenggelamkan.

Ketika Nuh mulai mengerjakan pembuatan bahtera, para pemuka kaum yang melewatinya selalu melontarkan ejekan dan hinaan. Nuh membalas bahwa kelak mereka sendirilah yang akan merasakan azab yang menghinakan dan abadi saat ketetapan Allah tiba.

Hikmah
Ketaatan penuh menjalankan perintah Allah harus terus berjalan teguh meski menghadapi celaan dan ejekan manusia (11:38-39).

Catatan istilah

Al-Fulk
Disebut dalam 11:37; bermakna kapal atau bahtera besar yang dibuat atas perintah wahyu Allah.
04Episode 4 dari 5

Banjir Besar dan Penyelamatan Orang Beriman

Ketika ketetapan Allah tiba dan pancaran air memancar deras dari tanur, Nuh diperintahkan membawa ke dalam bahtera sepasang dari tiap jenis hewan, keluarganya kecuali yang telah diputuskan binasa, serta seluruh orang yang beriman yang jumlahnya hanya sedikit. Nuh mengajak mereka naik dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh.

Bahtera itu berlayar membawa mereka di tengah hempasan ombak yang menjulang tinggi laksana gunung. Nuh berseru memanggil putranya yang berada di tempat terpencil agar naik bersama mereka dan tidak bergabung dengan orang kafir. Namun sang putra menolak dan bersikeras hendak mencari perlindungan ke puncak gunung; seketika gelombang besar datang memisahkan mereka hingga putranya tenggelam bersama kaum yang ingkar.

Setelah seluruh kaum yang mendustakan binasa, Allah memerintahkan bumi menelan airnya dan langit menghentikan curahan hujan. Air pun surut, perintah pembinasaan kaum zalim tuntas diselesaikan, dan bahtera tersebut berlabuh dengan selamat di atas gunung Judiy.

Hikmah
Hubungan nasab dan pertalian darah tidak dapat menyelamatkan seseorang tanpa adanya ikatan keimanan kepada Allah (11:43).

Catatan istilah

At-Tannūr
Disebut dalam 11:40; bermakna tungku atau perapian tempat memancarnya air sebagai tanda awal datangnya banjir bah.
Al-Jūdiyy
Disebut dalam 11:44; nama gunung tempat berlabuhnya bahtera Nabi Nuh.
Nama putra Nabi Nuh
Nama putra Nabi Nuh yang menolak naik bahtera tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.
05Episode 5 dari 5

Ketetapan Allah dan Penutup Kisah

Nuh memanjatkan doa memohon kepada Tuhannya mengenai nasib putranya seraya mengingat janji penyelamatan bagi keluarganya. Namun Allah mengingatkan Nuh bahwa putranya bukanlah bagian dari keluarganya yang dijanjikan selamat karena perbuatannya yang tidak saleh, serta menasihatinya agar tidak memohon sesuatu yang tidak diketahuinya. Nuh segera memohon ampun dan perlindungan kepada Allah dari kekhilafan tersebut.

Allah memerintahkan Nuh turun dari bahtera dengan membawa keselamatan dan limpahan berkah bagi dirinya serta umat-umat beriman yang menyertainya. Kisah ini ditutup dengan penegasan bahwa peristiwa gaib ini diwahyukan kepada Nabi Muhammad, seraya mengingatkan agar bersabar karena kesudahan yang mulia adalah milik orang-orang yang bertakwa.

Hikmah
Kesudahan yang baik dan keselamatan abadi senantiasa menjadi milik orang-orang yang bertakwa dan bersabar (11:49).

Catatan istilah

Hakikat keluarga beriman
Disebut dalam 11:46; ikatan keluarga sejati dalam pandangan Allah didasarkan pada kesamaan iman dan amal saleh.

Akhir kisah

Nuh & Perahu Besar

Kisah ini terdiri dari 5 episode, bersumber dari Q.S. Hud 25–49 · Nuh 1–28. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.