Kisah Para Nabi
Nabi Musa & Harun
Q.S. Al-Qasas 1–46 · Taha 9–98 · Asy-Syu'ara' 10–68
Kisah perjuangan Nabi Musa bersama saudaranya Nabi Harun dalam membebaskan Bani Israil dari penindasan Fir'aun. Melalui mukjizat nyata, keteguhan menghadapi para penyihir, mukjizat terbelahnya lautan, hingga ujian menghadapi pembangkangan kaumnya, keduanya menjadi teladan ketabahan dalam menegakkan tauhid.
Kelahiran, Istana Fir'aun, dan Hijrah ke Madyan
Al-Qur'an memaparkan bagaimana Fir'aun berbuat sewenang-wenang di bumi Mesir dan menindas Bani Israil dengan menyembelih anak-anak laki-laki serta membiarkan hidup anak-anak perempuan. Namun Allah berkehendak melimpahkan karunia kepada kaum yang tertindas itu dan menjadikan mereka para pemimpin dan pewaris.
Ibu Musa mendapat ilham dari Allah agar menyusui bayinya, dan apabila merasa khawatir, menghanyutkannya ke sungai tanpa rasa takut dan sedih karena Allah berjanji akan mengembalikannya dan menjadikannya seorang rasul. Bayi Musa kemudian dipungut oleh keluarga Fir'aun, dan istri Fir'aun memohon agar bayi itu tidak dibunuh melainkan dijadikan anak angkat. Atas petunjuk saudari Musa, ibu Musa akhirnya dipanggil sebagai ibu susuan sehingga Musa kembali ke pangkuan ibunya.
Setelah dewasa dan dianugerahi hikmah serta ilmu, Musa menyaksikan perkelahian antara seorang dari golongannya dan seorang dari musuhnya. Musa memukul orang musuh tersebut hingga tewas, lalu ia segera menyesali perbuatannya, memohon ampun kepada Allah, dan Allah mengampuninya. Ketika seorang lelaki datang memperingatkan adanya rencana pembunuhan atas dirinya, Musa segera keluar meninggalkan kota Mesir menuju Madyan dengan rasa cemas seraya berdoa memohon penyelamatan dari kaum yang zalim.
Tiba di sumber air Madyan, Musa menolong dua orang wanita meminumkan ternak mereka, lalu beristirahat dan berdoa memohon kebaikan dari Allah. Ayah kedua wanita itu mengundang Musa, memuliakannya, dan menawarkan salah satu putrinya untuk dinikahi dengan syarat Musa bekerja menggembalakan ternak selama delapan hingga sepuluh tahun. Musa menyepakati perjanjian tersebut dan menunaikannya.
Pertolongan Allah selalu menyertai hamba-Nya yang teraniaya dan memelihara mereka sejak awal kehidupan (28:7).
Panggilan di Lembah Suci dan Pengangkatan Harun
Setelah menuntaskan masa kerjanya dan berjalan bersama keluarganya, Musa melihat api di lereng gunung Thur. Ketika mendekati api tersebut, Musa mendengar panggilan dari Allah di Lembah Suci Thuwa yang memberitahukan bahwa Dia adalah Allah, Tuhan semesta alam, dan memilih Musa sebagai nabi serta memerintahkannya mendirikan salat untuk mengingat-Nya.
Allah memperlihatkan dua mukjizat nyata kepada Musa: tongkatnya yang dilemparkan berubah menjadi ular yang bergerak cepat, dan tangannya yang dimasukkan ke ketiak lalu dikeluarkan dalam keadaan putih bercahaya tanpa cacat, sebagai bukti kebesaran Allah untuk menghadapi Fir'aun.
Musa diperintahkan pergi kepada Fir'aun yang telah melampaui batas. Musa memohon kelapangan dada dan kemudahan urusan, serta memohon agar saudaranya, Harun, diangkat menjadi wazir dan nabi pembantunya karena Harun memiliki lisan yang lebih fasih. Allah mengabulkan seluruh permohonan Musa dan menetapkan Harun sebagai pendamping dakwahnya.
Kerja sama dan saling menguatkan dalam kebaikan adalah kunci keberhasilan menyampaikan kebenaran (20:29-32).
Catatan istilah
- Thuwa
- Lembah suci tempat Nabi Musa menerima wahyu pertama kali (20:12).
Seruan Dakwah di Hadapan Fir'aun
Allah mengingatkan Musa akan berbagai nikmat penjagaan sejak masa kecilnya, dan memerintahkan Musa bersama Harun berangkat menemui Fir'aun dengan membawa ayat-ayat-Nya serta bertutur kata lemah lembut agar Fir'aun menjadi ingat atau takut.
Ketika Musa dan Harun menyampaikan risalah Tuhan semesta alam dan meminta agar Bani Israil dibebaskan, Fir'aun mengungkit jasa mengasuh Musa semasa kecil dan menuduhnya tidak tahu berterima kasih. Musa menjawab bahwa pembunuhan yang pernah terjadi adalah kekhilafan sebelum datangnya petunjuk, dan nikmat asuhan itu tidak dapat dijadikan pembenaran atas perbudakan terhadap Bani Israil.
Fir'aun bertanya tentang siapakah Tuhan semesta alam. Musa dan Harun menjelaskan bahwa Tuhan mereka adalah Pencipta langit, bumi, timur, barat, dan yang menghidupkan serta mematikan manusia. Di hadapan Fir'aun dan pembesar kerajaannya, Musa menunjukkan mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular nyata dan tangannya yang memancarkan cahaya putih.
Kebenaran harus disampaikan dengan perkataan yang bijak dan lemah lembut sekalipun kepada penguasa yang zalim (20:44).
Kebenaran Mengalahkan Tipu Daya Sihir
Fir'aun menolak bukti-bukti tersebut dan menuduh Musa sebagai penyihir yang ingin mengusir mereka dari negerinya. Fir'aun kemudian mengumpulkan para ahli sihir terkemuka dari seluruh penjuru negeri pada hari raya keramaian untuk menandingi Musa.
Para penyihir melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka hingga tampak seolah-olah merayap cepat karena sihir mereka. Musa sempat merasakan kekhawatiran dalam hatinya, namun Allah memerintahkan Musa agar tidak takut dan melemparkan tongkatnya. Seketika tongkat Musa menelan habis seluruh kepalsuan yang mereka buat.
Menyaksikan mukjizat nyata tersebut, para penyihir spontan tersungkur bersujud dan menyatakan keimanan kepada Tuhan semesta alam, Tuhan Musa dan Harun. Meskipun Fir'aun mengancam akan memotong tangan dan kaki mereka secara bersilang serta menyalib mereka, para penyihir itu tetap teguh pada keimanan mereka.
Kepalsuan dan tipu daya tidak akan pernah mampu mengalahkan kebenaran yang datang dari Allah (20:69).
Penyelamatan Bani Israil dan Terbelahnya Laut
Allah mewahyukan kepada Musa agar membawa hamba-hamba-Nya berjalan pada malam hari meninggalkan Mesir. Mengetahui kepergian mereka, Fir'aun mengirimkan para pengumpul pasukan ke kota-kota untuk menghimpun bala tentara dalam jumlah besar guna mengejar rombongan Musa.
Ketika bala tentara Fir'aun berhasil menyusul pada waktu matahari terbit dan kedua golongan saling melihat, pengikut Musa merasa ketakutan dan berseru bahwa mereka pasti tertangkap. Namun Musa dengan penuh keyakinan menegaskan bahwa Tuhannya bersamanya dan akan memberi petunjuk jalan keselamatan. Allah kemudian memerintahkan Musa memukulkan tongkatnya ke laut, maka laut terbelah dan setiap belahan menjulang laksana gunung yang besar.
Musa dan seluruh orang yang bersamanya menyeberang dengan selamat melalui jalan kering di dasar laut. Ketika Fir'aun dan seluruh bala tentaranya masuk mengejar, Allah menenggelamkan mereka semua di dalam gulungan air laut. Peristiwa itu menjadi tanda kekuasaan Allah dan pelajaran bagi kaum yang mendustakan rasul.
Keyakinan bulat kepada pertolongan Allah akan membuka jalan keluar di saat seluruh jalan tampak tertutup (26:62).
Ujian Patung Anak Sapi dan Penegasan Tauhid
Setelah selamat dari kejaran Fir'aun, Allah melimpahkan rezeki berupa manna dan salwa kepada Bani Israil serta membuat perjanjian dengan Musa di sebelah kanan bukit Thur. Musa berangkat menuju tempat perjanjian dan bermunajat kepada Allah.
Selama kepergian Musa, Samiri menyesatkan Bani Israil dengan membuat patung anak sapi yang dapat bersuara dari leburan perhiasan mereka, lalu mengajak kaum untuk menyembahnya. Nabi Harun telah berusaha keras memperingatkan mereka bahwa patung itu hanyalah ujian dan memerintahkan mereka agar menaatinya, namun mereka membangkang dan bersikeras menyembahnya hingga Musa kembali.
Musa kembali kepada kaumnya dengan rasa marah dan sedih, lalu menegur Harun mengapa membiarkan kaumnya tersesat. Harun menjelaskan bahwa ia khawatir dituduh memecah belah persatuan Bani Israil sebelum kepulangan Musa. Musa kemudian mengusir Samiri, membakar serta menghancurkan patung anak sapi itu dan menaburkannya ke laut, seraya menegaskan bahwa tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Luas ilmu-Nya.
Menjaga kemurnian tauhid dari segala bentuk penyembahan selain Allah adalah amanah terpenting yang tidak boleh dikompromikan (20:98).
Akhir kisah
Nabi Musa & Harun
Kisah ini terdiri dari 6 episode, bersumber dari Q.S. Al-Qasas 1–46 · Taha 9–98 · Asy-Syu'ara' 10–68. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.