Maryam & Kelahiran Nabi Isa AS
Episode 1 dari 4

Kisah Para Nabi

مَرْيَمُ وَعِيسَى

Maryam & Kelahiran Nabi Isa AS

Q.S. Ali 'Imran 35–37 · Maryam 16–36

Kisah kesucian Maryam yang dipilih dan disucikan oleh Allah untuk melahirkan Nabi Isa AS tanpa perantara ayah sebagai tanda kekuasaan-Nya. Melalui ujian berat dan cercaan kaumnya, Allah memberikan ketenangan serta mukjizat bagi Isa yang dapat berbicara sejak dalam buaian untuk menegaskan risalah tauhid. Peristiwa ini menjadi bukti keagungan kalimat dan kehendak Allah.

  • 4 episode
  • 24 ayat
  • ~7 menit baca
Tokoh
MaryamNabi Isa ASMalaikat Jibril (Utusan Allah)Nabi Zakariya ASKaum Maryam
01Episode 1 dari 4

Nazar Keluarga Imran dan Rezeki di Mihrab

Istri Imran bernazar mempersembahkan anak yang ada dalam kandungannya untuk sepenuhnya berkhidmat kepada Allah. Namun ketika melahirkan, ternyata anak itu perempuan; ia berkata, “Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang perempuan” — dan Allah lebih mengetahui apa yang ia lahirkan. Ia menamainya Maryam dan memohonkan perlindungan baginya serta keturunannya dari setan yang terkutuk.

Maka Allah menerimanya dengan penerimaan yang baik, menumbuhkannya dengan pertumbuhan yang baik, dan menyerahkan pemeliharaannya kepada Nabi Zakariya AS. Setiap kali Zakariya masuk menemuinya di mihrab, ia selalu mendapati makanan telah tersedia di sisinya. Ia bertanya, “Wahai Maryam, dari mana engkau memperoleh ini?” Maryam menjawab, “Itu dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki tanpa perhitungan.”

Hikmah
Allah memelihara dan memberi rezeki kepada hamba pilihan-Nya melalui jalan yang berada di luar kebiasaan manusia (3:37).

Catatan istilah

Miḥrāb
Disebut dalam 3:37; bilik atau tempat khusus untuk beribadah dan menyendiri.
02Episode 2 dari 4

Utusan Datang dan Kabar Kelahiran Nabi Isa AS

Maryam mengasingkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur, lalu memasang tabir yang melindunginya dari mereka. Malaikat sebelumnya telah menyampaikan bahwa Allah memilih Maryam, menyucikannya, dan melebihkannya di atas seluruh perempuan pada masanya. Maka Allah mengutus utusan-Nya kepadanya, yang menampakkan diri dalam wujud manusia yang sempurna.

Menghadapi sosok yang tiba-tiba hadir itu, Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Yang Maha Pengasih, jika engkau seorang yang bertakwa.”

Utusan itu menjawab, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu untuk menganugerahkan kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.” Maryam bertanya, “Bagaimana mungkin aku memiliki anak, padahal tidak ada seorang laki-laki pun yang pernah menyentuhku, dan aku bukan seorang pezina?” Utusan itu berkata, “Demikianlah. Tuhanmu berfirman: hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya sebagai tanda bagi manusia dan rahmat dari Kami; itu adalah perkara yang telah ditetapkan.” Kabar itu menegaskan bahwa namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat; dan apabila Allah menetapkan sesuatu, Dia hanya berfirman, “Jadilah,” maka jadilah ia.

Hikmah
Bagi Allah, menciptakan sesuatu tanpa sebab biasa adalah perkara yang sangat mudah, cukup dengan firman 'Jadilah', maka jadilah (19:21, 3:47).

Catatan istilah

Al-Masīḥ
Gelar bagi Nabi Isa AS yang disebut dalam 3:45; bermakna yang diurapi atau diberkahi.
Rūḥunā
Disebut dalam 19:17; merujuk pada malaikat utusan Allah yang diutus kepada Maryam.
03Episode 3 dari 4

Pohon Kurma dan Pertolongan di Puncak Kesulitan

Maryam mengandung anaknya, lalu ia menyingkir dengan kandungannya ke tempat yang jauh. Ketika rasa sakit melahirkan memaksanya bersandar ke pangkal sebatang pohon kurma, dalam kesendirian dan beban yang amat berat ia berucap, “Aduhai, sekiranya aku mati sebelum ini, dan menjadi sesuatu yang tak berarti lagi dilupakan.”

Maka terdengar seruan dari arah bawahnya, “Janganlah engkau bersedih. Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya ia akan menggugurkan kepadamu kurma yang masak. Maka makanlah, minumlah, dan bersukacitalah. Jika engkau melihat seseorang, katakanlah: sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.”

Hikmah
Di tengah puncak kesulitan, rezeki dan ketenangan dari Allah hadir melalui jalan yang tak terduga (19:24-25).

Catatan istilah

Sariyyā
Disebut dalam 19:24; bermakna anak sungai atau aliran air kecil.
Ṣawm
Disebut dalam 19:26; dalam konteks nazar Maryam bermakna menahan diri dari berbicara kepada manusia.
04Episode 4 dari 4

Tuduhan Kaum dan Nabi Isa AS Berbicara dari Buaian

Maryam datang membawa bayinya kepada kaumnya. Mereka berkata, “Wahai Maryam, sungguh engkau telah membawa sesuatu yang sangat mungkar. Wahai saudari Harun, ayahmu bukanlah seorang yang buruk, dan ibumu bukanlah seorang pezina.”

Maka Maryam hanya menunjuk kepada bayinya. Mereka berkata dengan heran, “Bagaimana kami dapat berbicara dengan seorang bayi yang masih berada dalam ayunan?”

Seketika bayi itu berbicara, “Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Kitab dan menjadikanku seorang nabi. Dia menjadikanku diberkahi di mana pun aku berada, dan memerintahkanku menegakkan salat serta menunaikan zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku; Dia tidak menjadikanku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan atasku pada hari aku dilahirkan, pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.”

Itulah Isa putra Maryam; itulah perkataan yang benar yang masih mereka ragukan. Tidak patut bagi Allah mempunyai anak — Maha Suci Dia; apabila menetapkan sesuatu, Dia hanya berfirman, “Jadilah,” maka jadilah ia. Dan Nabi Isa AS sendiri menyerukan, “Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhan kalian, maka sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus.”

Hikmah
Nabi Isa AS menegaskan kedudukannya yang sejati sebagai hamba dan utusan Allah, bukan tuhan atau anak tuhan (19:30, 19:36).

Catatan istilah

Ukh-ta Hārūn
Disebut dalam 19:28; panggilan kaum kepada Maryam sebagai saudari perempuan Harun, merujuk pada nasab keluarga saleh di kalangan Bani Israil.

Akhir kisah

Maryam & Kelahiran Nabi Isa AS

Kisah ini terdiri dari 4 episode, bersumber dari Q.S. Ali 'Imran 35–37 · Maryam 16–36. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.