Maryam & Kelahiran Isa
Episode 1 dari 4

Kisah Para Nabi

مَرْيَمُ وَعِيسَى

Maryam & Kelahiran Isa

Q.S. Ali 'Imran 42–47 · Maryam 16–36

Kisah kesucian Maryam yang dipilih dan disucikan oleh Allah untuk melahirkan Nabi Isa tanpa perantara ayah sebagai tanda kekuasaan-Nya. Melalui ujian berat dan cercaan kaumnya, Allah memberikan ketenangan serta mukjizat bagi Isa yang dapat berbicara sejak dalam buaian untuk menegaskan risalah tauhid. Peristiwa ini menjadi bukti keagungan kalimat dan kehendak Allah.

  • 4 episode
  • 27 ayat
  • ~6 menit baca
Tokoh
MaryamNabi IsaMalaikat Jibril (Utusan Allah)Kaum Maryam
01Episode 1 dari 4

Penyucian Maryam dan Kabar Gembira Kelahiran

Al-Qur'an mengisahkan bagaimana Malaikat memberitahukan kepada Maryam bahwa Allah telah memilihnya, menyucikannya, dan melebihkannya di atas seluruh perempuan di semesta alam pada masanya. Maryam diperintahkan untuk taat, bersujud, dan rukuk kepada Allah, sementara orang-orang terdahulu berselisih dan mengundi pena tentang siapa yang berhak memeliharanya.

Malaikat menyampaikan kabar gembira mengenai kelahiran seorang anak melalui kalimat dari-Nya yang bernama Isa Almasih putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan akhirat serta orang yang didekatkan kepada Allah. Ketika Maryam bertanya bagaimana ia bisa memperoleh anak padahal belum pernah disentuh oleh seorang laki-laki pun, Allah menegaskan bahwa Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki; jika Dia menetapkan suatu perkara, Dia hanya berfirman 'Jadilah', maka jadilah urusan itu.

Maryam mengasingkan diri dari keluarganya ke tempat di sebelah timur dan memasang tabir pelindung. Allah mengutus utusan-Nya yang menampakkan diri dalam wujud manusia sempurna. Menghadapi kehadiran sosok tersebut, Maryam langsung memohon perlindungan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih seraya mengingatkan orang itu agar bertakwa.

Utusan tersebut menjelaskan bahwa dirinya hanyalah utusan Allah untuk menyampaikan anugerah seorang anak laki-laki yang suci. Maryam kembali mengungkapkan keheranannya karena tidak pernah disentuh laki-laki dan bukan seorang pezina, namun ditegaskan bahwa penciptaan tersebut sangat mudah bagi Allah, serta menjadi tanda kebesaran-Nya dan rahmat bagi manusia yang telah ditetapkan.

Hikmah
Bagi Allah, menciptakan sesuatu tanpa sebab biologis adalah perkara yang sangat mudah hanya dengan firman 'Kun fayakūn' (3:47).

Catatan istilah

Al-Masīḥ
Gelar bagi Nabi Isa yang disebut dalam 3:45; bermakna yang diurapi atau diberkahi.
Rūḥunā
Disebut dalam 19:17; merujuk pada malaikat utusan Allah yang diutus kepada Maryam.
02Episode 2 dari 4

Kandungan dan Kesunyian Masa Kelahiran

Maryam mengandung anaknya lalu mengasingkan diri membawanya ke tempat yang jauh dari orang-orang.

Ketika rasa sakit melahirkan datang menderanya, Maryam terpaksa bersandar pada pangkal sebatang pohon kurma. Dalam kesendirian dan beban kesedihan yang amat berat, ia sempat berucap mengharapkan kematian sebelum peristiwa itu terjadi dan menjadi sesuatu yang dilupakan selamanya.

Hikmah
Ujian berat yang dialami hamba saleh tidak mengurangi kemuliaan kedudukannya di sisi Allah (19:23).

Catatan istilah

Tempat yang jauh
Nama dan lokasi pasti tempat pengasingan Maryam tidak dijelaskan dalam Al-Qur'an.
03Episode 3 dari 4

Pertolongan Allah dan Menenangkan Maryam

Sebuah seruan terdengar dari tempat yang lebih rendah untuk menenangkannya agar tidak bersedih, karena Tuhannya telah memancarkan anak sungai di bawahnya yang mengalirkan air segar.

Maryam diperintahkan untuk menggoyangkan pangkal pohon kurma ke arahnya agar menjatuhkan buah kurma matang yang siap dimakan. Ia diminta untuk makan, minum, serta bersuka cita, dan apabila bertemu seseorang, ia diminta menyampaikan bahwa ia sedang bernazar puasa bicara kepada Tuhan Yang Maha Pengasih sehingga tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari itu.

Hikmah
Di tengah puncak kesulitan, rezeki dan ketenangan dari Allah hadir melalui jalan yang tak terduga (19:24-25).

Catatan istilah

Sariyyā
Disebut dalam 19:24; bermakna anak sungai atau aliran air kecil.
Ṣawm
Disebut dalam 19:26; dalam konteks nazar Maryam bermakna menahan diri dari berbicara kepada manusia.
04Episode 4 dari 4

Tuduhan Kaum dan Isa Berbicara dari Buaian

Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong bayinya. Menyaksikan hal itu, kaumnya langsung melontarkan tuduhan keji dan menganggapnya telah melakukan kemungkaran besar, seraya mengingatkan bahwa ayahnya bukan orang yang berkelakuan buruk dan ibunya bukan perempuan pezina.

Sesuai petunjuk yang diterimanya, Maryam tetap diam dan hanya menunjuk kepada bayinya agar mereka bertanya langsung kepadanya. Kaumnya merasa heran dan memprotes bagaimana mungkin mereka dapat berbicara dengan seorang bayi yang masih berada di dalam ayunan.

Seketika bayi Isa berbicara dan menyatakan bahwa dirinya adalah hamba Allah yang dianugerahi Kitab dan diangkat menjadi seorang nabi. Ia diberkahi di mana pun berada, diperintahkan mendirikan salat serta menunaikan zakat selama hidupnya, berbakti kepada ibunya tanpa bersikap sombong maupun celaka, serta dilimpahi keselamatan pada hari kelahirannya, wafatnya, dan hari ia dibangkitkan hidup kembali.

Al-Qur'an menegaskan bahwa itulah kebenaran tentang Isa putra Maryam yang diperselisihkan oleh manusia. Tidak patut bagi Allah mengambil anak karena Maha Suci Dia; apabila Dia menetapkan sesuatu urusan, Dia hanya berfirman 'Jadilah', maka jadilah hal itu. Isa sendiri menyerukan bahwa Allah adalah Tuhannya dan Tuhan seluruh manusia yang wajib disembah sebagai satu-satunya jalan yang lurus.

Hikmah
Isa menegaskan kedudukannya yang sejati sebagai hamba dan utusan Allah, bukan tuhan atau anak tuhan (19:30, 19:36).

Catatan istilah

Ukh-ta Hārūn
Disebut dalam 19:28; panggilan kaum kepada Maryam sebagai saudari perempuan Harun, merujuk pada nasab keluarga saleh di kalangan Bani Israil.

Akhir kisah

Maryam & Kelahiran Isa

Kisah ini terdiri dari 4 episode, bersumber dari Q.S. Ali 'Imran 42–47 · Maryam 16–36. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.