Kisah Para Nabi
Yusuf & Saudara-saudaranya
Q.S. Yusuf 1–111
Kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf yang penuh liku, dari mimpi masa kecil, kedengkian saudara, dibuang ke sumur, hingga fitnah di istana Mesir dan ketabahan di dalam penjara. Berkat ketakwaan dan ilmu takwil mimpi, Allah mengangkatnya menjadi bendahara negeri yang menyelamatkan masyarakat dari paceklik besar. Kisah ini berakhir dengan pemaafan yang tulus dan pertemuan kembali seluruh keluarga dalam suasana penuh keberkahan.
Mimpi Sebelas Bintang dan Nasihat Ayah
Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas, mengisahkan kisah-kisah terbaik (aḥsanal-qaṣaṣ) sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad mengenai berita yang belum diketahui sebelumnya.
Yusuf menceritakan mimpinya kepada sang ayah (Ya'qub) bahwa ia melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Sang ayah menasihati Yusuf agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya agar tidak memicu tipu daya akibat bisikan setan.
Sang ayah menegaskan bahwa Allah telah memilih Yusuf, mengajarkannya sebagian takwil mimpi, serta akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada keluarga Ya'qub sebagaimana yang telah disempurnakan-Nya kepada para leluhurnya, Ibrahim dan Ishaq.
Menjaga kerahasiaan nikmat dari pihak yang berpotensi dengki adalah bentuk kehati-hatian yang diajarkan dalam Al-Qur'an (12:5).
Catatan istilah
- Aḥsanal-Qaṣaṣ
- Kisah yang paling baik yang diwahyukan dalam Al-Qur'an (12:3).
- Takwīl Al-Aḥādīṡ
- Kemampuan memahami dan menafsirkan hakikat mimpi atau peristiwa (12:6).
Kedengkian Saudara dan Dasar Sumur
Saudara-saudara Yusuf merasa iri hati karena menganggap sang ayah lebih mencintai Yusuf dan saudaranya. Sebagian dari mereka mengusulkan untuk membunuh atau membuang Yusuf agar kasih sayang ayah tertumpah kepada mereka, hingga salah seorang di antara mereka menyarankan agar memasukkan Yusuf ke dasar sumur supaya dipungut oleh musafir yang lewat.
Mereka membujuk sang ayah agar mengizinkan Yusuf ikut bermain bersama mereka esok hari seraya berjanji menjaganya, meskipun Ya'qub sempat mengkhawatirkan serigala akan memangsanya. Ketika mereka berhasil membawa Yusuf dan sepakat mencampakkannya ke dasar sumur, Allah mewahyukan kepada Yusuf bahwa kelak ia pasti akan menceritakan perbuatan mereka itu saat mereka tidak menyadarinya.
Pada petang hari, mereka pulang menemui ayahnya seraya menangis dan berdalih bahwa serigala telah memangsa Yusuf ketika mereka lengah berlomba, sambil membawa bajunya yang dilumuri darah palsu. Ya'qub menyadari itu hanyalah rekayasa hati mereka dan menyatakan kesabaran yang indah (ṣabrun jamīl) seraya memohon pertolongan kepada Allah.
Kedengkian dapat membutakan persaudaraan, namun kesabaran yang tulus akan selalu dinaungi pertolongan Allah (12:18).
Catatan istilah
- Jubb
- Dasar sumur yang dalam (12:10).
- Ṣabrun Jamīl
- Kesabaran yang indah dan terpuji tanpa mengeluh kepada makhluk (12:18).
- Darah Palsu
- Darah yang sengaja dilumurkan pada pakaian untuk mengelabui (12:18).
Dijual ke Mesir dan Ujian Kesucian Diri
Sekelompok musafir yang menurunkan timba ke sumur menemukan Yusuf lalu membawanya dan menjualnya dengan harga murah beberapa dirham di Mesir. Pembeli Yusuf (al-Aziz) meminta istrinya memperlakukan Yusuf dengan baik, dan ketika Yusuf mencapai usia dewasa, Allah menganugerahkan kepadanya kearifan serta ilmu.
Wanita di rumah tempat Yusuf tinggal berusaha menggoda dan mengunci seluruh pintu, namun Yusuf teguh menolak seraya memohon perlindungan Allah. Ketika keduanya berlari menuju pintu dan baju Yusuf terkoyak di bagian belakang, suami wanita itu mendapati mereka di depan pintu; seorang saksi dari keluarga wanita itu menegaskan bahwa robekan di bagian belakang membuktikan kejujuran Yusuf dan kesalahan sang istri.
Kabar tersebut tersebar luas di kalangan wanita kota hingga istri al-Aziz mengundang mereka dalam jamuan; saat melihat keelokan rupa Yusuf, mereka terpana hingga tanpa sadar melukai jari tangan mereka dengan pisau. Menghadapi ancaman fitnah yang terus berlanjut, Yusuf berdoa lebih memilih penjara daripada kemaksiatan, hingga para pembesar memutuskan memenjarakannya demi menutupi perkara.
Memilih keteguhan iman dan kesucian diri jauh lebih mulia daripada kenikmatan semu yang mengundang murka Allah (12:33).
Catatan istilah
- Al-'Azīz
- Gelar pembesar atau pejabat tinggi pemerintahan di Mesir (12:30).
- Qamīṣ
- Baju gamis yang menjadi bukti kesucian Yusuf saat terkoyak di bagian belakang (12:26-28).
Dakwah Tauhid dan Dua Pemimpi di Penjara
Dua pemuda pelayan istana masuk ke dalam penjara bersama Yusuf dan menceritakan mimpi mereka untuk ditakwilkan. Sebelum menerangkan takwilnya, Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk mendakwahkan tauhid seraya menegaskan bahwa ia telah meninggalkan agama kaum yang ingkar dan setia mengikuti ajaran bapak-bapaknya, Ibrahim, Ishaq, dan Ya'qub.
Yusuf menyampaikan hujah akal dengan bertanya apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, serta menegaskan bahwa sesembahan selain Allah hanyalah nama-nama rekaan tanpa dasar kebenaran.
Yusuf menakwilkan bahwa salah seorang dari mereka akan kembali menuangkan minuman bagi tuannya, sedangkan yang lain akan disalib hingga kepalanya dimakan burung. Yusuf berpesan kepada pemuda yang selamat agar menceritakan perihalnya kepada tuannya di istana, namun setan membuatnya lupa sehingga Yusuf tetap mendekam di penjara selama beberapa tahun.
Kewajiban menyampaikan risalah tauhid tetap dilaksanakan dalam setiap keadaan, bahkan di balik jeruji penjara (12:39-40).
Catatan istilah
- Bid'a Sinīn
- Kurun waktu beberapa tahun (antara 3 hingga 9 tahun) dalam bahasa Arab (12:42).
- Arbābun Mutafarriqūn
- Tuhan-tuhan sembahan yang beraneka ragam dan bermacam-macam (12:39).
Mimpi Raja dan Amanah Pengelola Negeri
Raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum hijau berdampingan dengan bulir kering, namun para pemuka menganggapnya mimpi kosong belaka. Pemuda yang selamat teringat kepada Yusuf lalu menemuinya di penjara; Yusuf menerangkan takwil mimpi tersebut berupa anjuran bercocok tanam selama tujuh tahun subur dengan membiarkan hasil panen pada tangkainya, disusul tujuh tahun kemarau paceklik yang menghabiskan persediaan, dan kemudian tahun kelimpahan air hujan.
Mengetahui ketepatan takwil itu, raja memerintahkan agar Yusuf dibawa menghadap, namun Yusuf meminta agar perkara para wanita yang pernah melukai tangan mereka diselidiki terlebih dahulu. Di hadapan raja, para wanita dan istri al-Aziz mengakui dengan jujur bahwa Yusuflah yang benar dan bersih dari segala tuduhan.
Setelah kesuciannya terbukti nyata, raja mengangkat Yusuf sebagai orang terpercaya di istana. Yusuf memohon agar diserahi amanah sebagai bendahara pengelola negeri karena ia pandai menjaga amanah dan berilmu pengetahuan luas, sehingga Allah memberikan kedudukan yang tinggi bagi Yusuf di bumi Mesir.
Integritas moral dan kompetensi ilmu adalah kunci kepemimpinan yang membawa kemaslahatan bagi masyarakat luas (12:55).
Catatan istilah
- Ḥafīẓun ‘Alīm
- Sifat pandai menjaga amanah lagi berpengetahuan luas dalam mengelola urusan (12:55).
- Sab'un 'Ijāf
- Tujuh tahun kemarau dan paceklik yang sangat berat (12:48).
Kedatangan Saudara dan Syarat Gandum
Ketika musim paceklik melanda, saudara-saudara Yusuf datang ke Mesir untuk membeli bahan makanan. Yusuf mengenali mereka sementara mereka tidak menyadarinya; Yusuf memenuhi takaran gandum mereka seraya mensyaratkan agar pada kedatangan berikutnya mereka membawa saudara seayah (adik kandung Yusuf), serta memerintahkan para pembantunya mengembalikan barang-barang penukar ke dalam karung mereka secara diam-diam.
Kembali ke tanah air, mereka membujuk Ya'qub agar mengizinkan adik mereka ikut demi memperoleh tambahan jatah gandum seraya memperlihatkan barang penukar yang dikembalikan. Ya'qub yang mulanya berat hati akhirnya menyetujui setelah mereka bersumpah atas nama Allah untuk menjaganya dan membawanya pulang dengan selamat.
Ya'qub menasihati anak-anaknya agar tidak masuk dari satu pintu gerbang melainkan melalui pintu-pintu gerbang yang berlainan, seraya menegaskan bahwa ikhtiar tersebut tidak dapat menolak takdir Allah dan bahwa ia sepenuhnya bertawakal kepada-Nya.
Ikhtiar kehati-hatian harus senantiasa diiringi dengan kepasrahan dan tawakal mutlak kepada ketetapan Allah (12:67).
Catatan istilah
- Himl Ba'īr
- Ukuran bahan makanan seberat beban yang mampu dibawa oleh seekor unta (12:65).
- Tawakal
- Menyerahkan segala ketetapan hasil sepenuhnya kepada kehendak Allah setelah berikhtiar (12:67).
Cawan Raja dan Ujian bagi Saudara-Saudara
Setibanya di Mesir, Yusuf membawa adik kandungnya ke tempat khusus dan membisikkan rahasia bahwa ia adalah saudaranya. Ketika bahan makanan disiapkan, bejana minum raja dimasukkan ke dalam karung sang adik, lalu seorang penyeru mengumumkan tuduhan pencurian yang langsung dibantah tegas oleh saudara-saudara Yusuf.
Ketika ditanya perihal hukuman bagi pelakunya, saudara-saudara Yusuf menjawab bahwa siapa pun yang ditemukan barang tersebut dalam karungnya akan dijadikan hamba sahaya; Yusuf memeriksa karung-karung mereka dan mengeluarkan cawan raja dari karung sang adik sebagai rencana yang diatur Allah untuk menahannya di Mesir.
Saudara-saudara Yusuf melontarkan tuduhan lama bahwa saudara sang adik dahulu juga pernah mencuri, yang ditahan rasa pedihnya oleh Yusuf di dalam hati; mereka memohon agar salah seorang dari mereka dijadikan pengganti demi ayah mereka yang sudah tua renta, namun ditolak. Saudara tertua memutuskan tetap tinggal di Mesir hingga diizinkan ayahnya, sementara yang lain pulang membawa kabar tersebut kepada Ya'qub.
Kebijaksanaan dan kesabaran menahan diri dalam menghadapi tuduhan palsu merupakan tanda kemuliaan akhlak (12:77).
Catatan istilah
- Ṣuwā'ul Malik
- Cawan atau bejana minum raja yang juga berfungsi sebagai alat takar (12:72).
- Saudara Kandung Yusuf
- Disebut dalam ayat-ayat ini sebagai saudaranya; namanya tidak disebutkan secara eksplisit dalam teks Al-Qur'an (12:69).
Pengakuan Jati Diri dan Pertemuan Keluarga
Mendengar penahanan sang adik, Ya'qub kembali bersabar dan mengadukan kepedihannya hanya kepada Allah hingga kedua matanya memutih karena duka cita; ia memerintahkan anak-anaknya kembali mencari kabar tentang Yusuf dan adiknya tanpa berputus asa dari rahmat Allah.
Saat datang kembali ke Mesir memohon belas kasihan pangan, Yusuf menanyakan apa yang pernah mereka perbuat terhadap Yusuf dan adiknya di masa lalu. Menyadari pejabat mulia itu adalah Yusuf, mereka mengakui kekeliruan mereka; Yusuf memaafkan mereka tanpa cercaan seraya menyerahkan baju gamisnya untuk diusapkan ke wajah sang ayah agar dapat melihat kembali.
Kafilah tiba dan usapan baju Yusuf mengembalikan penglihatan Ya'qub, lalu seluruh keluarga berangkat ke Mesir. Yusuf menyambut kedua orang tuanya ke atas singgasana dan mereka semua sujud penghormatan kepadanya; Yusuf bersyukur atas terwujudnya takwil mimpinya dahulu dan berdoa memohon diwafatkan dalam keadaan muslim bersama orang-orang saleh.
Pengampunan yang tulus kepada orang yang pernah menzalimi adalah puncak kemuliaan budi pekerti (12:92).
Catatan istilah
- Sujud Penghormatan
- Bentuk penghormatan dan pemuliaan yang disyariatkan pada masa umat terdahulu, bukan sujud ibadah penyembahan (12:100).
- Rahmat Allah
- Harapan atas pertolongan Allah yang tidak boleh diputus oleh orang yang beriman (12:87).
Kabar Gaib dan Pelajaran bagi Orang Berakal
Allah menegaskan bahwa kisah ini merupakan bagian dari berita gaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad yang tidak menyaksikan persekongkolan mereka dahulu; Al-Qur'an adalah pengajaran bagi semesta alam tanpa menuntut imbalan apa pun, kendati banyak manusia berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah.
Sebagian besar manusia beriman sambil tetap menyekutukan Allah dan merasa aman dari azab; Rasulullah diperintahkan mengajak manusia kepada jalan Allah berdasarkan bukti yang nyata (baṣīrah), sebagaimana para rasul terdahulu yang diutus dari kalangan manusia negeri tersebut.
Ketika para rasul hampir berputus asa dan disangka telah didustakan, datanglah pertolongan Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman; Al-Qur'an bukanlah cerita yang diada-adakan, melainkan pembenar kitab-kitab sebelumnya, penjelasan terperinci atas segala urusan, serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
Kisah para nabi dalam Al-Qur'an adalah sumber petunjuk nyata dan pelajaran abadi bagi orang-orang yang berakal sehat (12:111).
Catatan istilah
- Baṣīrah
- Bukti nyata, ilmu pengetahuan yang jelas, dan mata hati yang terang dalam berdakwah (12:108).
- 'Ibrah
- Pelajaran berharga dan hikmah mendalam bagi orang-orang yang berakal sehat (12:111).
Akhir kisah
Yusuf & Saudara-saudaranya
Kisah ini terdiri dari 9 episode, bersumber dari Q.S. Yusuf 1–111. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.