Nabi Yusuf AS & Saudara-saudaranya
Episode 1 dari 12

Kisah Para Nabi

يُوسُف

Nabi Yusuf AS & Saudara-saudaranya

Q.S. Yusuf 1–111

Kisah perjalanan hidup Nabi Yusuf AS yang penuh liku, dari mimpi masa kecil, kedengkian saudara, dibuang ke sumur, hingga fitnah di istana Mesir dan ketabahan di dalam penjara. Berkat ketakwaan dan ilmu takwil mimpi, Allah mengangkatnya menjadi bendahara negeri yang menyelamatkan masyarakat dari paceklik besar. Kisah ini berakhir dengan pemaafan yang tulus dan pertemuan kembali seluruh keluarga dalam suasana penuh keberkahan.

  • 12 episode
  • 111 ayat
  • ~15 menit baca
Tokoh
Nabi Yusuf ASNabi Ya'qub ASSaudara-saudara Nabi Yusuf ASSaudara Sekandung Nabi Yusuf ASAl-Aziz (Pembesar Mesir)Istri Al-AzizWanita-wanita KotaDua Teman SepenjaraRaja Mesir
01Episode 1 dari 12

Mimpi Sebelas Bintang dan Nasihat Ayah

Nabi Yusuf AS menceritakan mimpinya kepada sang ayah (Nabi Ya'qub AS) bahwa ia melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan bersujud kepadanya. Sang ayah menasihati Yusuf agar tidak menceritakan mimpi tersebut kepada saudara-saudaranya agar tidak memicu tipu daya akibat bisikan setan.

Sang ayah menegaskan bahwa Allah telah memilih Nabi Yusuf AS, mengajarkannya sebagian takwil mimpi, serta akan menyempurnakan nikmat-Nya kepada keluarga Nabi Ya'qub AS sebagaimana yang telah disempurnakan-Nya kepada para leluhurnya, Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ishaq AS.

Hikmah
Menjaga kerahasiaan nikmat dari pihak yang berpotensi dengki adalah bentuk kehati-hatian yang diajarkan dalam Al-Qur'an (12:5).

Catatan istilah

Takwīl Al-Aḥādīṡ
Kemampuan memahami dan menafsirkan hakikat mimpi atau peristiwa (12:6).
02Episode 2 dari 12

Kedengkian Saudara dan Dasar Sumur

Saudara-saudara Nabi Yusuf AS merasa iri hati karena menganggap sang ayah lebih mencintai Yusuf dan saudaranya. Sebagian dari mereka mengusulkan untuk membunuh atau membuang Yusuf agar kasih sayang ayah tertumpah kepada mereka, hingga salah seorang di antara mereka menyarankan agar memasukkan Yusuf ke dasar sumur supaya dipungut oleh musafir yang lewat.

Mereka membujuk sang ayah agar mengizinkan Nabi Yusuf AS ikut bermain bersama mereka esok hari seraya berjanji menjaganya, meskipun Nabi Ya'qub AS sempat mengkhawatirkan serigala akan memangsanya. Ketika mereka berhasil membawa Yusuf dan sepakat mencampakkannya ke dasar sumur, Allah mewahyukan kepada Yusuf bahwa kelak ia pasti akan menceritakan perbuatan mereka itu saat mereka tidak menyadarinya.

Pada petang hari, mereka pulang menemui ayahnya seraya menangis dan berdalih bahwa serigala telah memangsa Nabi Yusuf AS ketika mereka lengah berlomba, sambil membawa bajunya yang dilumuri darah palsu. Nabi Ya'qub AS menyadari itu hanyalah rekayasa hati mereka dan menyatakan kesabaran yang indah (ṣabrun jamīl) seraya memohon pertolongan kepada Allah.

Hikmah
Kedengkian dapat membutakan persaudaraan, namun kesabaran yang tulus akan selalu dinaungi pertolongan Allah (12:18).

Catatan istilah

Jubb
Dasar sumur yang dalam (12:10).
Ṣabrun Jamīl
Kesabaran yang indah dan terpuji tanpa mengeluh kepada makhluk (12:18).
Damin Każib
“Darah dusta” (12:18); darah yang sengaja dilumurkan ke baju Nabi Yusuf AS untuk mengelabui Nabi Ya'qub AS.
03Episode 3 dari 12

Dari Dasar Sumur ke Pasar Mesir

Datanglah sekelompok musafir, lalu mereka menyuruh seorang pengambil air menurunkan timbanya. Ketika ia melihat Nabi Yusuf AS, ia berseru, “Oh, kabar gembira! Ini seorang anak muda!” Mereka menyembunyikannya sebagai barang dagangan — dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. Lalu mereka menjualnya dengan harga murah, hanya beberapa dirham, karena mereka memang tidak tertarik kepadanya.

Orang Mesir yang membelinya berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tempat tinggalnya; mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita, atau kita jadikan ia sebagai anak.” Demikianlah Allah meneguhkan kedudukan Nabi Yusuf AS di bumi dan mengajarkan kepadanya takwil mimpi; Allah berkuasa penuh atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. Ketika Yusuf mencapai kedewasaannya, Allah menganugerahkan kepadanya kearifan dan ilmu; demikianlah Allah membalas orang-orang yang berbuat baik.

Hikmah
Ketidakpedulian dan perlakuan buruk manusia tidak menghalangi rencana Allah yang meneguhkan kedudukan hamba pilihan-Nya (12:21).

Catatan istilah

Ṡamanin Bakhs
Harga yang sangat murah; Nabi Yusuf AS dijual hanya dengan beberapa dirham (12:20).
04Episode 4 dari 12

Pintu-pintu Terkunci dan Baju yang Robek

Perempuan yang Nabi Yusuf AS tinggal di rumahnya menggodanya; ia mengunci rapat semua pintu dan berkata, “Marilah ke sini.” Yusuf menjawab, “Aku berlindung kepada Allah. Sesungguhnya dialah tuanku yang telah memperlakukan aku dengan baik; sungguh, orang-orang zalim tidak akan beruntung.” Perempuan itu benar-benar berkehendak kepadanya, dan Yusuf pun akan berkehendak kepadanya sekiranya ia tidak melihat tanda dari Tuhannya. Demikianlah, agar Allah memalingkan darinya keburukan dan kekejian, karena ia termasuk hamba Allah yang terpilih.

Keduanya berlomba menuju pintu, dan perempuan itu menarik baju Nabi Yusuf AS dari belakang hingga koyak; lalu keduanya mendapati suami perempuan itu tepat di ambang pintu. Perempuan itu berkata, “Apakah balasan bagi orang yang bermaksud buruk terhadap istrimu selain dipenjara atau dihukum dengan pedih?”

Nabi Yusuf AS berkata, “Dialah yang menggodaku.” Seorang saksi dari keluarga perempuan itu pun memberi kesaksian, “Jika bajunya koyak di bagian depan, maka perempuan itu benar dan Yusuf termasuk yang berdusta; tetapi jika bajunya koyak di bagian belakang, maka perempuan itulah yang berdusta dan Yusuf termasuk yang benar.” Ketika sang suami melihat baju itu koyak di bagian belakang, ia berkata, “Sesungguhnya ini adalah tipu daya kalian, para perempuan; sungguh tipu daya kalian itu besar. Yusuf, berpalinglah dari perkara ini. Dan engkau, mohonlah ampun atas dosamu, karena engkau termasuk orang yang bersalah.”

Hikmah
Keteguhan menjaga kesucian diri karena melihat tanda dari Allah jauh lebih mulia daripada tunduk pada godaan (12:24).

Catatan istilah

Burhān
Tanda atau bukti dari Tuhan yang meneguhkan Nabi Yusuf AS sehingga terpalingkan dari keburukan (12:24).
Qamīṣ
Baju gamis yang menjadi bukti kesucian Nabi Yusuf AS saat terkoyak di bagian belakang (12:26-28).
05Episode 5 dari 12

Perempuan-perempuan Kota dan Pilihan Penjara

Perempuan-perempuan di kota bergunjing, “Istri al-Aziz menggoda pelayannya; sungguh cinta telah merasukinya. Kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” Mendengar cercaan itu, ia mengundang mereka dalam sebuah jamuan dan memberi masing-masing sebilah pisau, lalu berkata kepada Nabi Yusuf AS, “Keluarlah menemui mereka.” Ketika mereka melihatnya, mereka terpana mengagumi ketampanannya hingga tanpa sadar melukai tangan mereka sendiri, dan berkata, “Maha Sempurna Allah! Ini bukanlah manusia; ini tidak lain adalah malaikat yang mulia.”

Perempuan itu berkata terang-terangan, “Itulah orang yang kalian cela aku karenanya. Sungguh aku telah menggodanya, tetapi ia menolak dan menjaga diri. Jika ia tidak melakukan apa yang kuperintahkan, ia pasti dipenjara dan menjadi orang yang hina.” Nabi Yusuf AS berdoa, “Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka; dan jika Engkau tidak memalingkan tipu daya mereka dariku, niscaya aku cenderung kepada mereka dan menjadi termasuk orang yang bodoh.” Maka Tuhannya mengabulkan doanya dan memalingkan tipu daya mereka darinya.

Kemudian, setelah para pembesar menyaksikan sendiri bukti-bukti kesucian Nabi Yusuf AS, timbul keinginan pada mereka untuk memenjarakannya sampai suatu waktu.

Hikmah
Kesucian diri yang dijaga karena Allah pada akhirnya diakui bahkan oleh mulut yang pernah menuduhnya (12:32).

Catatan istilah

Al-'Azīz
Gelar pembesar atau pejabat tinggi pemerintahan di Mesir (12:30).
06Episode 6 dari 12

Dakwah Tauhid dan Dua Pemimpi di Penjara

Dua pemuda pelayan istana masuk ke dalam penjara bersama Nabi Yusuf AS dan menceritakan mimpi mereka untuk ditakwilkan. Sebelum menerangkan takwilnya, Yusuf memanfaatkan kesempatan itu untuk mendakwahkan tauhid seraya menegaskan bahwa ia telah meninggalkan agama kaum yang ingkar dan setia mengikuti ajaran bapak-bapaknya, Nabi Ibrahim AS, Nabi Ishaq AS, dan Nabi Ya'qub AS.

Nabi Yusuf AS menyampaikan hujah akal dengan bertanya apakah tuhan-tuhan yang bermacam-macam lebih baik ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa, serta menegaskan bahwa sesembahan selain Allah hanyalah nama-nama rekaan tanpa dasar kebenaran.

Nabi Yusuf AS menakwilkan bahwa salah seorang dari mereka akan kembali menuangkan minuman bagi tuannya, sedangkan yang lain akan disalib hingga kepalanya dimakan burung. Yusuf berpesan kepada pemuda yang selamat agar menceritakan perihalnya kepada tuannya di istana, namun setan membuatnya lupa sehingga Yusuf tetap mendekam di penjara selama beberapa tahun.

Hikmah
Kewajiban menyampaikan risalah tauhid tetap dilaksanakan dalam setiap keadaan, bahkan di balik jeruji penjara (12:39-40).

Catatan istilah

Bid'a Sinīn
Kurun waktu beberapa tahun (antara 3 hingga 9 tahun) dalam bahasa Arab (12:42).
Arbābun Mutafarriqūn
Tuhan-tuhan sembahan yang beraneka ragam dan bermacam-macam (12:39).
07Episode 7 dari 12

Mimpi Raja dan Amanah Pengelola Negeri

Raja Mesir bermimpi melihat tujuh sapi gemuk dimakan tujuh sapi kurus dan tujuh bulir gandum hijau berdampingan dengan bulir kering, namun para pemuka menganggapnya mimpi kosong belaka. Pemuda yang selamat teringat kepada Nabi Yusuf AS lalu menemuinya di penjara; Yusuf menerangkan takwil mimpi tersebut berupa anjuran bercocok tanam selama tujuh tahun subur dengan membiarkan hasil panen pada tangkainya, disusul tujuh tahun kemarau paceklik yang menghabiskan persediaan, dan kemudian tahun kelimpahan air hujan.

Mengetahui ketepatan takwil itu, raja memerintahkan agar Nabi Yusuf AS dihadapkan, namun Yusuf meminta agar perkara para perempuan yang dahulu melukai tangan mereka diselidiki terlebih dahulu. Di hadapan raja, mereka berkata, “Maha Sempurna Allah, kami tidak mengetahui suatu keburukan pun pada dirinya.” Istri al-Aziz pun mengakui, “Sekarang jelaslah kebenaran itu; akulah yang menggodanya, dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar. Dan aku tidak membebaskan diriku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati Tuhanku.”

Setelah kesuciannya terbukti nyata, raja mengangkat Nabi Yusuf AS sebagai orang terpercaya di istana. Yusuf memohon agar diserahi amanah sebagai bendahara pengelola negeri karena ia pandai menjaga amanah dan berilmu pengetahuan luas, sehingga Allah memberikan kedudukan yang tinggi bagi Yusuf di bumi Mesir.

Hikmah
Mengakui bahwa nafsu manusia condong kepada keburukan — kecuali yang dirahmati Allah — adalah kejujuran yang jauh lebih dalam daripada merasa diri tak bersalah (12:53).

Catatan istilah

Ḥafīẓun ‘Alīm
Sifat pandai menjaga amanah lagi berpengetahuan luas dalam mengelola urusan (12:55).
Sab'un 'Ijāf
Tujuh tahun kemarau dan paceklik yang sangat berat (12:48).
08Episode 8 dari 12

Kedatangan Saudara dan Syarat Gandum

Ketika musim paceklik melanda, saudara-saudara Nabi Yusuf AS datang ke Mesir untuk membeli bahan makanan. Yusuf mengenali mereka sementara mereka tidak menyadarinya; Yusuf memenuhi takaran gandum mereka seraya mensyaratkan agar pada kedatangan berikutnya mereka membawa saudara seayah (adik kandung Yusuf), serta memerintahkan para pembantunya mengembalikan barang-barang penukar ke dalam karung mereka secara diam-diam.

Kembali ke tanah air, mereka membujuk Nabi Ya'qub AS agar mengizinkan adik mereka ikut demi memperoleh tambahan jatah gandum seraya memperlihatkan barang penukar yang dikembalikan. Ya'qub yang mulanya berat hati akhirnya menyetujui setelah mereka bersumpah atas nama Allah untuk menjaganya dan membawanya pulang dengan selamat.

Nabi Ya'qub AS menasihati anak-anaknya agar tidak masuk dari satu pintu gerbang melainkan melalui pintu-pintu gerbang yang berlainan, seraya menegaskan bahwa ikhtiar tersebut tidak dapat menolak takdir Allah dan bahwa ia sepenuhnya bertawakal kepada-Nya.

Hikmah
Ikhtiar kehati-hatian harus senantiasa diiringi dengan kepasrahan dan tawakal mutlak kepada ketetapan Allah (12:67).

Catatan istilah

Himl Ba'īr
Ukuran bahan makanan seberat beban yang mampu dibawa oleh seekor unta (12:65).
Tawakkul
Disebut dalam 12:67 (“‘alayhi tawakkaltu”); menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah setelah menempuh ikhtiar.
09Episode 9 dari 12

Cawan Raja dan Ujian bagi Saudara-Saudara

Setibanya di Mesir, Nabi Yusuf AS membawa adik kandungnya ke tempat khusus dan membisikkan rahasia bahwa ia adalah saudaranya. Ketika bahan makanan disiapkan, bejana minum raja dimasukkan ke dalam karung sang adik, lalu seorang penyeru mengumumkan tuduhan pencurian yang langsung dibantah tegas oleh saudara-saudara Yusuf.

Ketika ditanya perihal hukuman bagi pelakunya, saudara-saudara Nabi Yusuf AS menjawab bahwa siapa pun yang ditemukan barang tersebut dalam karungnya akan dijadikan hamba sahaya; Yusuf memeriksa karung-karung mereka dan mengeluarkan cawan raja dari karung sang adik sebagai rencana yang diatur Allah untuk menahannya di Mesir.

Saudara-saudara Nabi Yusuf AS melontarkan tuduhan lama bahwa saudara sang adik dahulu juga pernah mencuri, yang ditahan rasa pedihnya oleh Yusuf di dalam hati; mereka memohon agar salah seorang dari mereka dijadikan pengganti demi ayah mereka yang sudah tua renta, namun ditolak. Saudara tertua memutuskan tetap tinggal di Mesir hingga diizinkan ayahnya, sementara yang lain pulang membawa kabar tersebut kepada Nabi Ya'qub AS.

Hikmah
Kebijaksanaan dan kesabaran menahan diri dalam menghadapi tuduhan palsu merupakan tanda kemuliaan akhlak (12:77).

Catatan istilah

Ṣuwā'ul Malik
Cawan atau bejana minum raja yang juga berfungsi sebagai alat takar (12:72).
Saudara Kandung Yusuf
Disebut dalam ayat-ayat ini sebagai saudaranya; namanya tidak disebutkan secara eksplisit dalam teks Al-Qur'an (12:69).
10Episode 10 dari 12

Mata yang Memutih karena Duka

Nabi Ya'qub AS berkata, “Sebenarnya hanya dirimu sendiri yang memandang baik urusan yang buruk itu. Maka kesabaran yang indah itulah pilihanku; mudah-mudahan Allah mendatangkan mereka semua kepadaku. Sungguh, Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” Ia berpaling dari mereka seraya berkata, “Aduhai, betapa dukaku terhadap Yusuf,” dan kedua matanya menjadi putih karena kesedihan yang ia tahan dalam diam.

Anak-anaknya berkata, “Demi Allah, engkau tidak henti-hentinya mengingat Yusuf sampai engkau mengidap penyakit berat atau termasuk orang-orang yang binasa.” Nabi Ya'qub AS menjawab, “Sesungguhnya hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui. Wahai anak-anakku, pergilah, carilah kabar tentang Yusuf dan saudaranya, dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah; sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir.”

Hikmah
Mengadukan duka hanya kepada Allah dan tidak berputus asa dari rahmat-Nya adalah tanda keimanan sejati (12:86-87).

Catatan istilah

Ṣabrun Jamīl
Kesabaran yang indah dan terpuji tanpa mengeluh kepada makhluk (12:83).
11Episode 11 dari 12

“Akulah Yusuf” dan Pertemuan Keluarga

Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf AS, mereka berkata, “Wahai al-Aziz, kami dan keluarga kami telah ditimpa kesengsaraan; kami datang membawa barang yang tak berharga, maka sempurnakanlah takaran untuk kami dan bersedekahlah kepada kami. Sesungguhnya Allah membalas orang-orang yang bersedekah.” Yusuf berkata, “Tahukah kalian apa yang telah kalian perbuat terhadap Yusuf dan saudaranya ketika kalian dalam kebodohan?” Mereka tersentak, “Apakah engkau benar-benar Yusuf?” Ia menjawab, “Akulah Yusuf, dan ini saudaraku. Sungguh Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”

Mereka berkata, “Demi Allah, sungguh Allah telah melebihkanmu atas kami, dan sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” Nabi Yusuf AS berkata, “Tidak ada cercaan atas kalian pada hari ini. Semoga Allah mengampuni kalian, dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang. Bawalah bajuku ini, lalu usapkanlah ke wajah ayahku, niscaya ia dapat melihat kembali; dan bawalah seluruh keluarga kalian kepadaku.”

Tatkala kafilah itu berangkat meninggalkan Mesir, ayah mereka berkata, “Sesungguhnya aku mencium bau Yusuf, sekiranya kalian tidak menganggapku sudah pikun.” Mereka berkata, “Demi Allah, sesungguhnya engkau masih dalam kekeliruanmu yang dahulu.” Ketika pembawa kabar gembira itu tiba dan mengusapkan baju itu ke wajah Nabi Ya'qub AS, seketika ia dapat melihat kembali, dan berkata, “Bukankah telah kukatakan kepada kalian bahwa aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kalian ketahui?” Mereka berkata, “Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami atas dosa-dosa kami; sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.” Ya'qub menjawab, “Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Tuhanku; sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ketika mereka masuk menemui Nabi Yusuf AS, ia merangkul kedua orang tuanya dan berkata, “Masuklah kalian ke negeri Mesir dengan aman, insya Allah.” Ia menaikkan kedua orang tuanya ke atas singgasana, dan mereka semua tunduk bersujud sebagai penghormatan kepadanya. Yusuf berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku dahulu; sungguh Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Dia benar-benar telah berbuat baik kepadaku ketika mengeluarkan aku dari penjara, dan membawa kalian dari dusun setelah setan merusak hubungan antara aku dan saudara-saudaraku.” Lalu ia berdoa, “Tuhanku, Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebagian kekuasaan dan mengajariku sebagian takwil mimpi. Wahai Pencipta langit dan bumi, Engkaulah pelindungku di dunia dan akhirat. Wafatkanlah aku dalam keadaan berserah diri, dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh.”

Hikmah
Memaafkan tanpa cercaan dan menyebut penjara alih-alih sumur di hadapan yang pernah menzalimi adalah puncak kemuliaan budi (12:92, 12:100).

Catatan istilah

Lā tathrība
“Tidak ada cercaan” — pemaafan Nabi Yusuf AS tanpa mengungkit kesalahan saudara-saudaranya (12:92).
Sujud Penghormatan
Bentuk penghormatan dan pemuliaan yang disyariatkan pada masa umat terdahulu, bukan sujud ibadah penyembahan (12:100).
12Episode 12 dari 12

Kabar Gaib dan Pelajaran bagi Orang Berakal

Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab yang jelas, mengisahkan kisah-kisah terbaik (aḥsanal-qaṣaṣ) sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad SAW mengenai berita yang belum diketahui sebelumnya.

Allah menegaskan bahwa kisah ini merupakan bagian dari berita gaib yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang tidak menyaksikan persekongkolan mereka dahulu; Al-Qur'an adalah pengajaran bagi semesta alam tanpa menuntut imbalan apa pun, kendati banyak manusia berpaling dari tanda-tanda kebesaran Allah.

Sebagian besar manusia beriman sambil tetap menyekutukan Allah dan merasa aman dari azab; Rasulullah diperintahkan mengajak manusia kepada jalan Allah berdasarkan bukti yang nyata (baṣīrah), sebagaimana para rasul terdahulu yang diutus dari kalangan manusia negeri tersebut.

Ketika para rasul hampir berputus asa dan disangka telah didustakan, datanglah pertolongan Allah menyelamatkan orang-orang yang beriman; Al-Qur'an bukanlah cerita yang diada-adakan, melainkan pembenar kitab-kitab sebelumnya, penjelasan terperinci atas segala urusan, serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Hikmah
Kisah para nabi dalam Al-Qur'an adalah sumber petunjuk nyata dan pelajaran abadi bagi orang-orang yang berakal sehat (12:111).

Catatan istilah

Aḥsanal-Qaṣaṣ
Kisah yang paling baik yang diwahyukan dalam Al-Qur'an (12:3).
Baṣīrah
Bukti nyata, ilmu pengetahuan yang jelas, dan mata hati yang terang dalam berdakwah (12:108).
'Ibrah
Pelajaran berharga dan hikmah mendalam bagi orang-orang yang berakal sehat (12:111).

Akhir kisah

Nabi Yusuf AS & Saudara-saudaranya

Kisah ini terdiri dari 12 episode, bersumber dari Q.S. Yusuf 1–111. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.