Kisah Umat Terdahulu
Para Pemilik Kebun yang Enggan Berbagi
Q.S. Al-Qalam 17–33
Para pemilik kebun bersumpah memetik hasilnya pada pagi hari dan berniat menghalangi orang miskin, tetapi kebun itu telah menjadi hitam seperti malam yang gelap.
Sumpah Panen dan Bencana di Waktu Tidur
Allah menguji orang-orang musyrik sebagaimana Dia telah menguji para pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka pasti akan memetik hasilnya pada pagi hari,
tetapi mereka tidak mengecualikan sumpah itu dengan kehendak Allah. Lalu kebun itu ditimpa bencana yang datang dari Tuhanmu ketika mereka sedang tidur, sehingga jadilah kebun itu hitam karena terbakar, seperti malam yang gelap gulita.
Rencana yang dipastikan tanpa mengecualikannya dengan kehendak Allah dapat berakhir dalam satu malam, saat pemiliknya sedang tidur (68:18–20).
Catatan istilah
- Aṣḥāb al-Jannah
- Disebut dalam 68:17; para pemilik kebun yang Allah uji, sebagaimana Dia menguji orang-orang musyrik.
- Kaṣ-Ṣarīm
- Disebut dalam 68:20; keadaan kebun yang menjadi hitam karena terbakar, seperti malam yang gelap gulita.
Berangkat Pagi Hari dan Niat Menghalangi Orang Miskin
Pada pagi hari mereka saling memanggil, “Pergilah pagi-pagi ke kebunmu jika kamu hendak memetik hasil.”
Mereka pun berangkat sambil berbisik-bisik, “Pada hari ini jangan sampai ada orang miskin yang masuk ke dalam kebunmu.”
Berangkatlah mereka pada pagi hari dengan niat menghalangi orang-orang miskin, dan mereka mengira diri mereka mampu melakukan hal itu.
Niat menahan hak orang miskin disusun dalam bisik-bisik, sementara ketetapan Allah atas kebun itu telah lebih dahulu berlaku (68:23–25).
Catatan istilah
- Yatakhāfatūn
- Disebut dalam 68:23; berangkat sambil saling berbisik dengan suara pelan.
- Qādirīn
- Disebut dalam 68:25; mereka mengira diri mereka mampu menghalangi orang-orang miskin.
Menyaksikan Kebun yang Musnah dan Saling Mencela
Ketika melihat kebun itu, mereka berkata, “Sesungguhnya kita benar-benar orang sesat. Bahkan, kita tidak memperoleh apa pun.”
Seorang yang paling bijak di antara mereka berkata, “Bukankah aku telah mengatakan kepadamu hendaklah kamu bertasbih kepada Tuhanmu?” Mereka pun mengucapkan, “Subḥāna rabbinā innā kunnā ẓālimīn — Maha Suci Tuhan kami. Sungguh, kami adalah orang-orang yang zalim.”
Mereka saling berhadapan dengan saling mencela. Mereka berkata, “Aduh celaka kita! Sesungguhnya kita adalah orang-orang yang melampaui batas. Mudah-mudahan Tuhan memberikan ganti kepada kita dengan yang lebih baik daripadanya. Sesungguhnya kita mengharapkan Tuhan kita.” Seperti itulah azab di dunia, sedangkan azab akhirat lebih besar sekiranya mereka mengetahui.
Saling mencela tidak memulihkan kebun yang telah musnah; yang tersisa hanyalah pengakuan bahwa mereka zalim dan harapan kepada Tuhan mereka (68:29–33).
Catatan istilah
- Ausaṭuhum
- Disebut dalam 68:28; seorang yang paling bijak di antara mereka.
- Lā Tusabbiḥūn
- Disebut dalam 68:28; teguran karena mereka tidak bertasbih kepada Tuhan mereka.
Akhir kisah
Para Pemilik Kebun yang Enggan Berbagi
Kisah ini terdiri dari 3 episode, bersumber dari Q.S. Al-Qalam 17–33. Baca ayat-ayatnya utuh di Mushaf untuk melihat konteks penuhnya.